Akibat Gempa Jembatan Besar Ambon Retak Dan Perbaikan Memakan Waktu 2 Bulan

Akibat Gempa Jembatan Besar Ambon Retak Dan Perbaikan Memakan Waktu 2 Bulan

Gempa magnitudo 6,8 SR yang menimpa Ambon, terhadap Kamis 26 September, membuat rusaknya terhadap sejumlah infrastruktur. Salah satunya Jembatan Merah Putih, yang mengalami keretakan terhadap bagian lantainya.

Melanjuti kasus itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan segera memperbaikinya. Diperkirakan, jembatan besar di ibu kota Maluku berikut bisa lagi utuh semuanya di dalam selagi 2 bulan ke depan.

Direktur Jembatan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR, Iwan Zarkasi, menyatakan bahwa guncangan gempa beberapa selagi selanjutnya telah membuat lanjutan jembatan menjadi bergerak.

Akibat Gempa Jembatan Besar Ambon Retak Dan Perbaikan Memakan Waktu 2 Bulan

“Kalau bergerak kan di atasnya aspal, menjadi otomatis dia akan retak, tetapi itu sedang diperbaiki lagi. Jadi di di dalam rencana jembatan, terlebih yang bentang banyak, itu ada sambungan-sambungannya. Nah, sambungannya itu sebetulnya lemah,” terangnya di sedang kunjungan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Km 26 Tol Japek, Kabupaten Bekasi, Senin (30/9/2019).

Dia mengatakan, pergerakan itu membuat banyak keretakan di badan jembatan. Namun begitu, ia tunjukkan situasi Jembatan Merah Putih masih bagus dan pihaknya sebentar lagi akan melaksanakan sistem perbaikan.

Proses perbaikan itu disebutnya akan memakan selagi tak begitu lama. “Mungkin tidak cukup lebih antara 2 bulan itu selesai. Itu masih bisa dilewati juga. Hanya retak sedikit kok,” ungkapnya.

Meski mengalami keretakan, Iwan pun memastikan, Jembatan Merah Putih selagi ini tetap bisa dilewati layaknya biasa tanpa ada pengurangan lajur.

“Enggak manfaatkan penutupan, enggak. Masih operasi normal. Sepeda motor masih bisa lewat,” tandasnya.

Pusat Penelitian Laut Dalam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2LD-LIPI) tunjukkan standing gempa tektonik magnitudo 6,5 skala richter (SR) yang melanda Pulau Ambon dan sekitarnya terhadap Kamis, 26 September 2019 akan semakin aman, sebab kekuatan goncangan gempa susulan semakin mengecil.

“Itu after shock, semestinya semakin aman kendati getarannya masih terasa hingga jam lima sore ini terhitung telah 597 kali gempa susulan, tetapi magnitudonya telah semakin kecil sehabis gempa pertama,” kata Kepala P2LD-LIPI Nugroho Dwi Hananto di Ambon, Minggu (29/9/2019) dilansir Antara.

Ia menjelaskan, di dalam studi perihal kegempaan, kekuatan yang dikeluarkan oleh gempa tektonik susulan pasti lebih kecil dari gempa utama. Karena beberapa besar energi yang dihasilkan oleh pergeseran bidang patahan-patahan bumi yang menjadi sumber gempa telah dilepaskan.

Gempa-gempa susulan di Pulau Ambon dan sekitarnya yang masih konsisten terasa hingga hari ini, merupakan sistem normal pergerakan bidang patahan bumi selagi melewatkan energi yang tersisa untuk mencari keseimbangan.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak panik dan cemas dengan gempa-gempa susulan yang masih terasa.

Tetapi untuk korban pengaruh gempa yang rumahnya retak disarankan sehingga tidak berada lama di dalamnya, sebab bisa saja roboh akibat goncangan gempa.

“Semakin banyak gempa susulan tambah semakin bagus sebab energinya semakin meluruh, yang dilepaskan sekarang adalah sisa-sisa energi. Melepaskan 100 kali gempa dengan magnitud lebih kecil lebih baik daripada satu kali gempa 6,5 SR, sebab skala lima hingga enam itu 1.000 kali magnitudnya,” ucap Nugroho.

Ahli geologi itu menyatakan magnitudo gempa tektonik 6,5 SR yang berjalan di Ambon kecuali disetarakan dengan satu kilogram bahan peledak atau trinitrotoluena (TNT), maka skalanya setara dengan satu miliar kilogram bahan peledak, nyaris mirip dengan skala bom atom yang dilepaskan tentara sekutu di Hiroshima selagi Perang Dunia II.

“Gempa 6,5 SR umumnya berjalan di dunia lebih kurang 20 hingga 40 kali setahun. Kalau skalanya disetarakan dengan bahan peledak, maka kita layaknya dibom di Hiroshima selagi Perang Dunia II, efeknya layaknya gempa 6,5 SR yang berjalan kemarin,” ujarnya.