Demokratisasi Alami Pelemahan Hasil Survei 2020

Demokratisasi Alami Pelemahan Hasil Survei 2020

Lembaga survei Indikator merilis hasil survei terakhir yang dilakukan pada 24-30 September 2020. Hasil survei membuktikan proses demokratisasi mengalami pelemahan. Dukungan pada demokrasi sebagai proses pemerintahan memang masih tinggi yakni menggapai 62%.

“Secara lazim sementara ini lebih banyak warga yang menilai Indonesia semakin tidak demokratis, dua kali lipat dari yang menilai Indonesia sementara ini semakin demokratis,” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi didalam paparan hasil survei di Jakarta, Minggu (25/10/2020).

Burhan mengatakan survei mengambil sampel sebanyak 1.200 responden yang dipilih secara acak dari kumpulan sampel acak survei tatap muka segera pada rentang Maret 2018 hingga Maret 2020. Dengan analisis metode sederhana random sampling, ukuran sampel 1.200 responden punyai toleransi kekeliruan (margin of error/MoE) kurang lebih 2,9% pada tingkat keyakinan 95%.

Hasil survei membuktikan situasi Indonesia kurang demokratis menggapai 36%. Kemudian tersedia 37% yang beranggap selamanya keadaannya. Sementara cuma 17,7% yang beranggap Indonesia lebih demokratis.

Adapun yang mengatakan demokrasi masih proses pemerintahan paling baik menggapai 62%. Sementara tersedia 19,3% mengatakan tidak acuhkan proses pemerintahan apa yang dianut, apakah demokrasi ataupun bukan demokrasi. Kemudian tersedia 11,1% yang mengatakan didalam situasi tertentu, proses bukan demokrasi dapat diterima

Hasil lain survei Indikator membuktikan meningkatnya ancaman pada kebebasan sipil. Ada 79,6% masyarakat setuju atau benar-benar setuju bahwa sementara ini warga semakin risau menyuarakan pendapat. Kemudian tersedia 73,8% membuktikan semakin susah berdemonstrasi atau laksanakan protes. Sementara 57,7% membuktikan aparat semakin semena-mena menangkap warga yang berlainan pandangan politiknya bersama dengan penguasa.

“Semakin publik menilai bahwa Indonesia semakin tidak demokratis, semakin risau warga membuktikan pendapat, semakin susah warga berdemonstrasi, dan aparat dinilai semakin semena-mena, maka kepuasan atas kinerja demokrasi semakin tertekan,” tutur Burhan.