Di Saat Pemenang Pemilu Akan Menjadi Diktator Sejati

Buku How Democracies Die karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt mendadak viral usai Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengunggah foto sedang membaca buku berikut pada Minggu (22/11).

Buku itu berisi hasil penelitian dan pengamatan Levitsky-Ziblatt pada kematian demokrasi di sebagian negara. Titik penekanan buku itu soal gejala kematian demokrasi di Amerika Serikat sesudah Donald Trump menjabat presiden.
Taruhan Bola
Buku itu terbit pada 2018 dalam bahasa Inggris dan dialih bahasa ke bahasa Indonesia oleh PT Gramedia Jakarta di th. berikutnya.

Dalam buku itu, Levitsky-Ziblatt membeberkan catatan histori soal kematian demokrasi yang tak selamanya di mulai oleh jenderal militer melalui kudeta. Kisah kematian demokrasi yang monumental justru mampir berasal dari proses paling demokratis.
Lihat juga: Gaduh Posting Anies Baca Buku ‘How Democracies Die’

How Democracies Die menjadikan karier politik Adolf Hitler, Benito Mussolini, dan Chavez sebagai contoh. Ketiganya gagal menggapai tampuk kekuasaan melalui kudeta, tapi berhasil menjadi diktator usai melalui proses legal.

Dalam kudeta klasik, kata Levitsky-Ziblatt, kematian demokrasi kelihatan jelas. Istana dibakar dan presiden terbunuh, dipenjara, atapun diasingkan. Namun perihal itu tak berjalan dalam kematian demokrasi melalui pemilu.

“Tak tersedia tank di jalanan. Konstitusi dan instansi berlabel demokratis lainnya selamanya ada. Rakyat tetap berikan suara. Autokrat hasil pemilu menjaga penampilan demokrasi sambil menghilangkan substansinya,” tulis Levitsky-Ziblatt dalam How Democracies Die.

Buku itu menyebut kematian demokrasi melalui jalur elektoral yang demokratis justru menyebabkan warga tidak sadar. Banyak orang yang yakin mereka tetap hidup dalam demokrasi meski gejala kediktatoran berjalan di depan mereka.
Lihat juga: Pengamat: ‘How Democracies Die’ Sindiran Anies untuk Oligarki

“Ketika rezim jelas-jelas ‘melewati batas’ memasuki kediktatoran, tak tersedia yang mampu menyebabkan alarm masyarakat berbunyi. Mereka yang mencela tindakan pemerintah barangkali dianggap terlalu berlebih atau bohong. Erosi demokrasi itu hampir tak menjadi bagi banyak orang,” tulis Levitsky-Ziblatt.
Ciri-ciri Pemimpin Diktator

Belajar berasal dari kediktatoran Hitler, Musolini, dan Chavez, buku itu menyebut diktator mampu lahir kala partai politik yang mapan menjadi melemah.Mereka tergiur oleh sosok kharismatik di luar politik mapan yang punya banyak pendukung, Levitsky-Ziblatt menyebutnya demagog.
Lihat juga: PDIP soal Buku How Democracies Die: Anies Sindir Diri Sendiri

Levitsky-Ziblatt memberikan cara agar menghambat kematian demokrasi adalah bersama dengan mengidentifikasi diktator sejak awal. Mereka mengutip Juan Linz soal empat ciri diktator.

“Kita sebaiknya khawatir andaikata seorang politikus 1) menampik aturan main demokrasi, bersama dengan kalimat atau perbuatan, 2) menyangkal legitimasi lawan, 3) menoleransi atau menyerukan kekerasan, atau 4) memperlihatkan kesediaan menghalangi kebebasan sipil lawan, juga media,” tulis Levitsky-Ziblatt.

Meski begitu, mereka berpendapat tak mudah untuk mengidentifikasi diktator sejak dini. Belajar berasal dari pengalaman di jaman lalu, kediktatoran apalagi tak muncul kala permulaan.

“Namun politikus tak selamanya mengungkap total takaran otoritarianisme mereka sebelum akan menggapai kekuasaan. Beberapa menganut norma-norma demokrasi pada awal karier, sesudah itu mencampakkannya,” ujar mereka.