Kader Gerindra Di Kabarkan Melakukan Kekerasan Pada Aksi 22 Mei

Kader Gerindra Di Kabarkan Melakukan Kekerasan Pada Aksi 22 Mei

Kader Gerindra Di Kabarkan Melakukan Kekerasan Pada Aksi 22 Mei – Lima terdakwa perusuh 22 Mei didakwa ikut lakukan perlawanan pada aparat keamanan pada pas aksi 22 Mei 2019. Para terdakwa disebut jaksa lakukan kekerasan kepada petugas keamanan yang berjaga di depan gedung Bawaslu pas ada aksi besar yang berujung kericuhan.

Kader Gerindra Di Kabarkan Melakukan Kekerasan Pada Aksi 22 Mei

Lima perusuh 22 Mei berikut yakni Yayan Hendrayana, Iskandar Hamid, Obby Nugraha, Hendrik Syamrosa dan Surya Gemara Cibro.

“Telah lakukan paksaan dan perlawanan berdasarkan pasal 212 bersama kekerasan atau ancaman kekerasan melawan seorang pejabat yang sedang menjalankan tugas yang sah, atau orang yang menurut kewajiban undang-undang atau atas permintaan pejabat berikan perlindungan kepadanya,” kata jaksa penuntut lazim (JPU) Nopriyandi pas membacakan surat dakwaan di dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Bungur Besar, Jakarta, Senin (16/9/2019).

Mereka didakwa melanggar bersama Pasal 212 juncto Pasal 214 KUHP atau Pasal 217 ayat (1) juncto Pasal 53 ayat (1) KUHP atau Pasal 218 KUHP.

Kasus ini bermula disebut jaksa, Iskandar Hamid selaku Wakil Sekretaris DPC Gerindra Tasikmalaya terima surat tugas berasal dari Ketua DPC Gerindra Tasimalaya Nandang Surayana. Surat tugas berikut meminta Iskandar, Yayan (sopir ambulance) dan Obby ikut aksi rancangan aksi 22 Mei di KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta. Titik kumpul mereka di Seknas Relawan Prabowo Sandi, Jalan HOS Cokroaminoto, Menteng Jakarta Pusat.

“Hal berikut berdasarkan imbauan berasal dari Dewan Pimpinan Daerah Gerindra berdasarkan surat yang ditandatangani oleh Bucky Wibawa selaku wakil ketua dan Cecep Permanadi selaku wakil sekretaris memuat menginstruksikan seluruh kader DPC Gerindra (yang ada unit ambulance) untuk mengirimkan seluruh unit ambulance ke kesibukan rancangan aksi 22 Mei ke KPU yang diperkirakan akan dihadiri oleh banyak orang dan segala cost menjadi tanggungjawab tiap-tiap DPC,” kata jaksa.

Jaksa menyebut Iskandar terima duwit Rp 1,2 juta berasal dari Bendahara DPC Gerindra Tasikmala Kuntara untuk cost operasional perjalanan Tasimalaya ke Jakarta. Saat mereka telah hingga di Seknas Relawan Prabowo-Sandi bertemu seseorang laki-laki yang mengendarai mobil Avanza untuk mengikutinya ke Jalan Wahid Hasyim bersama alasan menunjang korban. Seseorang laki-laki itu termasuk meminta Hendrik dan Surya untuk masuk di dalam mobil ambulance ke lokasi tersebut.

Saat itu massa pendemo di depan Bawaslu makin banyak supaya Kapolda Metro Jaya mengeluarkan surat perintah untuk menaikkan personel. Kapolres Jakarta Pusat Kombes Harry Kurniawan termasuk telah mengimbau massa membubarkan diri dan lagi ke rumah masing-masing, tapi massa melemparkan batu hingga mengakibatkan kerusakan sarana umum. Akibatnya, lebih dari satu polisi mengalami luka-luka.

“Bahwa sesudah masa pendemo berhasil didorong mundur oleh pasukan anti huru hara berasal dari brimob dan petugas lainnya dan telah terasa kondusif saksi Muhidin bersama tim berhasil mengamankan pengunjuk rasa yang anarkis,” jelas jaksa.