Kurz Ingin Front Untuk Eropa Vs Politik Islam Kata Macron

Kurz Ingin Front Untuk Eropa Vs Politik Islam Kata Macron

Kanselir Austria Sebastian Kurz mendesak sesama pemimpin Eropa untuk membentuk front bersama dengan melawan apa yang oleh lebih dari satu pemimpin disebut “politik Islam.”

“Saya menghendaki diakhirinya toleransi yang dimengerti secara tidak benar dan semua negara di Eropa selanjutnya memahami betapa berbahayanya ideologi politik Islam bagi kebebasan kita dan cara hidup di Eropa,” kata Kurz kepada surat kabar Jerman Die Welt. “Uni Eropa kudu lebih fokus pada kasus politik Islam pada era depan.”

Gagasan untuk membentuk front bersama dengan Eropa melawan politik Islam, yang pertama kali dikemukakan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron, itu kini dianut oleh para pemimpin Eropa lainnya, terhitung menteri luar negeri Italia, yang menjelaskan bahwa Uni Eropa kudu mengadopsi versi Undang-Undang Patriot Amerika, yang berikan badan keamanan punyai kewenangan pengawasan yang lebih besar.

Kurz menjelaskan dia dapat memasang kasus politik Islam di dalam agenda pertemuan puncak Uni Eropa yang dijadwalkan akhir bulan ini. Dia menjelaskan udah berbicara bersama dengan Macron dan “banyak pemimpin pemerintah lainnya sehingga kita sanggup berkoordinasi lebih erat di di dalam UE.”

Komentar kanselir Austria itu terlihat sehabis terjadinya penembakan di Wina pada hari Senin di mana seorang pria bersenjata menewaskan empat orang, serangan teroris besar pertama di bumi Austria sejak 1985.

Dinas keamanan Austria kini menyelidiki apakah tersangka berusia 20 tahun, seorang warga negara ganda Austria-Makedonia Utara yang pernah terlihbat kasus teror pada mulanya itu punyai jalinan bersama dengan militan Islam di negara-negara lain, terhitung Swiss, di mana polisi menangkap dua orang sehubungan bersama dengan serangan di Wina. Menteri Kehakiman Swiss Karin Keller-Sutter menjelaskan kepada surat kabar lokal bahwa keduanya adalah “rekan” penyerang, dan ketiga pria itu bertemu langsung baru-baru ini.

Gelombang serangan yang ditunaikan oleh militan Islamis di Paris, Nice, Dresden dan Wina sepanjang lebih dari satu minggu paling akhir meningkatkan kewaspadaan, dan para pejabat keamanan Eropa menjelaskan mereka khawatir dapat kekerasan lebih lanjut.