Metode Benar Hadapi Resesi Ekonomi Di Saat Milenial 2020

Metode Benar Hadapi Resesi Ekonomi Di Saat Milenial 2020

Indonesia kelanjutannya memasuki jurang resesi ekonomi Bandar Taruhan

Sebelumnya, ekonomi sudah minus 5,32 prosen di kuartal II 2020 dikarenakan pandemi covid-19.

Tentunya, kondisi resesi ekonomi kudu disikapi oleh seluruh masyarakat, tak terkecuali kaum milenial yang berada di usia produktif 25 tahun-40 tahun.

Perencana keuangan Finansia Consulting Eko Endarto menyatakan kaum milenial hendaknya merasa berpikir berkenaan risiko keuangan di tengah krisis ekonomi ini. Umumnya, para millenial ini memang sudah mengantongi penghasilan. Namun, Eko mengutamakan resesi ekonomi mengakibatkan sebuah ketidakpastian berkenaan kondisi perekonomian mendatang.

“Harus diingat bahwa kami tidak tahu hingga kapan pendapatan dapat stabil, dikarenakan seluruh sektor terdampak. Jadi yang dipikirkan adalah risikonya, bisa jadi saat ini nyaman-nyaman saja namun 2-3 bulan hilang penghasilannya dikarenakan PHK, potong gaji, atau dirumahkan,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Namun, generasi milenial tak kudu panik hadapi resesi ekonomi ini melainkan mempersiapkan dan melakukan perbaikan pola pengaturan keuangannya. Berikut sejumlah cara pengaturan keuangan yang bisa dipertimbangkan milenial di tengah resesi ekonomi:
1. Dana cadangan

Eko menyatakan pengaturan keuangan paling utama bagi milenial adalah mempersiapkan dana cadangan, atau sejumlah duit yang disiapkan untuk mengantisipasi jika terjadi persoalan bersama sumber penghasilan.

Eko menyebutkan besaran rata-rata dana cadangan sebesar 3-6 bulan pengeluaran bulanan. Bagi milenial yang belum memiliki dana cadangan sama sekali, Eko benar-benar merekomendasikan mereka untuk merasa mempersiapkannya. Sebaliknya, bagi yang sudah memiliki dana cadangan tidak tersedia salahnya untuk memperbesar jumlahnya.
Lihat juga: 4 Tip Liburan Asyik Anti Boncos

“Kenapa? Karena perihal itu mengantisipasi terkecuali terjadi persoalan terhadap pendapatan dia, jangan hingga investasi atau tabungan dikorbankan, jangan hingga melewatkan investasi padahal belum menghasilkan hasil, berarti dia dapat merugi,” jelasnya.
2. Kencangkan ikat pinggang

Tak bisa dipungkiri, kaum milenial identik bersama pengeluaran konsumtif, terutama bagi milenial yang sudah memiliki pendapatan spesial namun belum berkeluarga. Namun, Eko merekomendasikan kaum millenial ini untuk merasa membedakan keperluan dan permintaan saat hendak melakukan konsumsi di tengah resesi ekonomi.

“Harus mengurangi hal-hal yang tidak perlu, lebih-lebih waktu ini saat tidak memiliki dana cadangan, maka prioritaskan dulu dana cadangan, supaya perihal yang tidak krusial jangan melakukan dulu untuk tutupi dana cadangan,” ucapnya.

Ia merekomendasikan kaum milenial terutama dulu menyisihkan penghasilannya untuk membayar kewajiban sebesar 30 persen. Lalu, mempersiapkan dana cadangan, tabungan, maupun keperluan dana proteksi sebesar 20 prosen dari penghasilan.
Lihat juga: 6 Tip Antisipasi Pesangon Berkurang Gara-gara Omnibus Law

“Sisanya baru bisa untuk konsumsi sehari-hari, jadi yang memiliki utang bayar dulu, lantas dana cadangan, tabungan, proteksi dan asuransi diselesaikan dulu, sisanya baru konsumsi,” tuturnya.
3. Jangan tambah utang

Eko mewanti-wanti kaum milenial tidak menaikkan utang atau cicilan lebih-lebih yang bersifat konsumtif terhadap waktu resesi ekonomi. Alasannya, tambahan utang ini justru bisa mengakibatkan persoalan ke depannya terkecuali tidak bisa melunasi.

Ia kembali mengutamakan terkecuali resesi ekonomi ini dipenuhi ketidakpastian. Jadi, belum tentu pendapatan yang milenial saat ini tetap bisa bertahan didalam kurun waktu beberapa bulan ke depan, dikarenakan resesi ekonomi ini berdampak bagi seluruh sektor.
Lihat juga: Tips untuk Pekerja: Cara Menghemat Uang Operasional waktu PSBB

Sepakat, Perencana keuangan dari One Schildt Consulting Budi Raharjo juga mengutamakan kaum milenial untuk mengurangi dan tidak menaikkan utang. Menurutnya, tidak tersedia yang bisa memprediksi kapan resesi ekonomi dapat berakhir dikarenakan ini benar-benar tergantung dari perkembangan pandemi covid-19.

“Kita belum tahu dampak resesi apakah sudah kemarin, lantas saat ini sudah menuju perbaikan dan normal, atau apakah ke depan dapat jadi lebih kritis dan baru mulai? Kita tidak tahu, jadi lebih baik kami siap-siap dari sekarang,” tuturnya.
4. Siapkan keranjang

Budi mengajarkan untuk mempermudah milenial mengatur keuangan terhadap masa resesi ekonomi adalah bersama mempersiapkan keranjang pengeluaran. Untuk waktu ini, tentu prioritas keranjang pengeluaran selanjutnya adalah dana darurat, proteksi, investasi, terakhir baru keranjang konsumsi.

“Jangan benar-benar konsumtif, kami sisihkan beberapa pendapatan kami didMetode Benar Hadapi Resesi Ekonomi Di Saat Milenial 2020alam beberapa keranjang, untuk dana darurat, proteksi dan asuransi, investasi masa depan, itu yang saat ini kudu jadi pengingat,” katanya.

Namun, bukan berarti kaum milenial dilarang melakukan konsumsi di luar keperluan primer. Budi menyebutkan pengeluaran yang sifatnya konsumtif tetap bisa dilakukan, asal tetap perhatikan kebugaran keuangannya.
Lihat juga: 4 Kiat Agar Tak Tergoda Tawaran Tiket Pesawat Murah
5. Sarana pembelajaran

Baik Eko dan Budi setuju resesi ekonomi ini jadi pembelajaran bagi seluruh lapisan masyarakat juga millnial. Pelajaran dan hikmah paling utama dari resesi ekonomi dan pandemi covid-19 adalah tidak tersedia sesuatu yang pasti, supaya kudu merasa berpikir berkenaan antisipasi, proteksi, dan investasi.

“Milenial bisa bersyukur terjadi krisis saat mereka tetap muda, tetap bisa produktif, terkecuali PHK tetap banyak perusahaan yang mencari. Tapi, cobalah bayangkan perihal ini terjadi saat mereka sudah masuk tahapan pensiun, ini bahaya supaya kudu diantisipasi,” tuturnya.

Sepakat, Budi mengutamakan pelajaran dari resesi ekonomi adalah mempersiapkan pondasi keuangan bersama baik. Jadi saat terjadi krisis, generasi milenial tetap memiliki pegangan kuat.

“Semoga kami bisa ambil hikmah dan pelajaran, waktu kami tengah lapang, bukannya tidak boleh menikmati, namun kami kudu mengalokasikan dan mengakibatkan pondasi keuangan kami tetap sehat dan kuat,” tuturnya.