PDIP Jawab Soal Buku How Democracies Die

Anggota DPRD DKI Jakarta berasal dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Gilbert Simanjuntak menilai Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tengah menyindir diri sendiri pas membaca buku berjudul How Democracies Die.
Pasang Bola
Menurutnya, demokrasi bakal mati oleh segelintir orang yang terlalu berkuasa, sebagaimana isi buku yang dibaca oleh Anies.

“Nyindir siapa? Nyindir dirinya kurasa lebih tepat. Demokrasi mati oleh segelintir orang yang terlalu berkuasa cocok isi buku yang dia baca,” kata Gilbert kepada CNNIndonesia.com, Minggu (22/11).
Lihat juga: Pengamat: ‘How Democracies Die’ Sindiran Anies untuk Oligarki

Gilbert menjelaskan Anies seharusnya fokus menuntaskan janji kampanye di Pilkada DKI Jakarta 2017 yakni menyejahterakan rakyat, bukan menyejahterakan kelompok tertentu.

Dia menampik menjelaskan secara khusus tentang kelompok khusus yang ia maksud tengah disejahterakan oleh Anies.

“Kamu udah sadar sebenarnya, kelompok yang menjadi pendukungnya dulu. Sekarang dia seharusnya milik publik,” kata Gilbert.

Senada, bagian DPRD DKI Jakarta berasal dari Fraksi PDIP Gembong Warsono berharap Anies fokus mengatasi pandemi virus corona atau Covid-19 dan mengantisipasi banjir daripada mengunggah foto membaca buku How Democracies Die yang sesudah itu ditafsirkan politis oleh sejumlah kalangan.

“Saya kira lebih baik Pak Gubernur fokus lakukan penanganan Covid-19 yang didalam posisi naik dan antisipasi banjir di pas Jakarta jadi diguyur hujan,” tuturnya.
Lihat juga: Irma Suryani Tafsirkan Pidato JK Sentilan Dahsyat untuk Anies

Anies mengunggah foto tengah membaca buku How Democracies Die di account Instagram miliknya, @aniesbaswedan.

How Democracies Die diketahui dibikin untuk meneliti dinamika politik didalam negeri didalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016, dan juga dinamika politik semasa pemerintah Presiden Donald Trump.

How Democracies Die merupakan buku karya seorang ilmuwan politik lulusan Universitas Harvard, Steven Levitsky dan Daniel Ziblat, yang terbit pada 16 Januari 2018 lalu.

Buku setebal 380 halaman itu melukiskan langkah seorang pemimpin yang terpilih punya sumber kekuatan dan juga akses mengubah proses demokrasi untuk memperkuat cengkeraman kekuasaan secara perlahan di masyarakat.