Politik Dimata Anak Muda Indonesia 2020

Politik Dimata Anak Muda Indonesia 2020

SEBAGAI sebuah refleksi, aktualisasi peran pemuda dalam konteks dinamika sosial politik hari ini senyatanya menunjukan indikasi yang optimis.

Dalam hal relasi pada generasi muda dan partai politik (parpol) misalnya. Parpol hari ini patut berprasangka Pasang Bola positif bahwa kadersisasi politik mendapatkan ladang persemaiannya. Anak muda hari ini memiliki kesadaran kronis yang tidak kalah unggulnya semenjak momentum kepemudaan 92 tahun lalu.

Hal berikut paling tidak dapat ditinjau dari pertumbuhan sosial masyarakat Indonesia dewasa kini, disaat kesadaran kronis udah kian terbangun melalui pola pelibatan publik (civic engagement) yang promotif dan sistemik dalam pelbagai urusan penyelenggaraan negara.
Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring bersama dengan gerakan reformasi 1998 udah mengantarkan kami terhadap suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi udah menghendaki adanya pola pelibatan partisipasi warga dalam kehidupan politik baik secara segera maupun tidak langsung. Hadirnya otonomi area yang lebih luas dan nyata, udah memberikan area bagi masyarakat sampai terhadap aras lokal untuk lebih intensif berperan, tidak cuma sebagai objek pembangunan tapi juga sebagai subjek pembangunan daerah.

Upaya demokratisasi melalui pemilihan kepala area secara segera oleh masyarakat udah menyuguhkan sistem politik yang dekat dan pekat di tingkat akar rumput. Melalui desentralisasi politik, partisipasi warga difasilitasi dalam usaha mendorong pembangunan yang berbentuk bottom up, melalui musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) yang menitikberatkan terhadap fungsi penting agregasi aspirasi publik. Pemantapan partisipasi publik di antaranya ikut pula dapat dukungan oleh lahirnya UU Keterbukaan Informasi Publik, yang praktis udah memberikan jaminan lebih bagi demokratisasi.

Kini diskursus kebijakan publik tidak lagi menjadi urusan eksklusif negara, melainkan udah menjadi diskurus yang terbuka, dapat diakses, dan diperbincangkan oleh tiap-tiap warga negara. Dalam konteks demikian, upaya-upaya sistemik pelibatan publik pascareformasi sejatinya udah mengantarkan masyarakat hari ini terhadap suatu kesadaran politik baru (political awarness), yaitu terciptanya internalisasi kesadaran masyarakat atas hak dan kewajiban sebagai warga negara. Antara lain kesadaran bakal hak-hak politik, hak ekonomi, hak mendapat pertolongan hukum, hak meraih jaminan sosial, dan kewajiban-kewajiban layaknya dalam sistem politik, kewajiban kehidupan sosial budaya, dan kewajiban lainnya.

Di pada penyandang kesadaran kronis berikut tidak ada lain adalah kelompok muda, atau sering disebut milenial yang merupakan populasi terbesar dalam struktur piramida masyarakat di Indonesia. Mereka merupakan generasi yang lahir dan tumbuh kembang dalam nurture sosial politik yang demokratis.

Mereka adalah generasi asli dari demokrasi (native democracy), yang semenjak lahir taken for granted hidup dalam ekosistem sosial-politik yang dibangun atas nilai-nilai kesetaraan dan keterbukaan. Ciri utama tingkah laku mereka adalah mempunyai kecenderungan bersikap kronis dan banyak bertanya. Mereka mulai memiliki kompetensi tinggi supaya tak mulai ragu untuk berdebat dan berlainan secara radikal perihal suatu hal. Namun terhadap saat yang serupa mereka dapat membangun kolaborasi dan sinergitas untuk suatu target yang sama.

Suatu budaya politik milenial yang mengupayakan menempatkan argumen di atas sentimen. Mentalitas sosial politik milenial yang demikianlah ditunjang pula oleh tingkat keterdidikan yang baik (well-educated). Keterbukaan Info dan akses ilmu ilmu yang terpapar luas udah terlalu mungkin mereka untuk meraih literasi politik yang memadai.

Sebagai penguasa dunia digital (native digital), mereka merupakan kelompok yang piawai meakukan elaborasi teknologi dan aplikasi digital. Dengan intensitas berselancar di sosial media yang tinggi, milenial merupakan kelompok yang tak pernah terasing dari dinamika diskursus publik.

Milenial sering menjadi generasi yang dapat menciptakan gelombang wacana. Fenomena viral dan trending topic di media sosial adalah bentuk dominasi wacana yang notabene anak mudalah pencipta resonansinya. Mereka merupakan generasi yang bersama dengan enteng terpantik isu. Gandrung melaksanakan pembahasan isu penting yang menyangkut dan relevan bersama dengan dirinya dari mulai soal pergantian iklim, identitas, gender, romance sampai politik.

Tak ayal kelompok milenial udah menjadi barometer diskursus publik mengingat talenta digital dan kuantitas demografinya yang besar di Indonesia. Kombinasi pada demokrasi dan digitalisasi Info udah memberikan area seluas-luasnya bagi pelibatan publik (civic enggagement) dan tumbuh suburnya kesadaran politik yang kritis. Yang terhadap gilirannya udah mengantarkan masyarakat Indonesia terhadap etape konsolidasi demokrasi yang matang. Bagi kelompok milenial, demokrasi bukanlah sebuah alternatif, melainkan sebagai way of life yang menanggung kebebasan bagi mereka untuk secara ‘sembarang’ menalar isu-isu politik.

Ekosistem politik sedemikian sejatinya harus dipandang sebagai indikasi positif bahwasannya kadersisasi politik anak muda mendapatkan ladang persemaiaannya yang subur (breeding ground). Transformasi kesadaran politik Karenanya, menjadi penting bagi parpol untuk memandang pertumbuhan kehidupan sosial politik hari ini sebagai sebuah tantangan sekaligus kesempatan kaderisasi dan regenerasi. Alih-alih memendam kesangsian dan kekuatiran pesimistik atas sebuah mitos bahwa parpol kian ditinggalkan kaula muda.

Sungguh naif manakala tetap menyatakan bahwa partai politik mengalami ada problem untuk melaksanakan kaderisasi di kalangan kelompok muda. Karena jika saja mengerti demografi dan pertumbuhan budaya sosial politik hari ini, realitas justru udah menunjukan kesempatan yang optimis bagi aktivisme politik anak muda di Indonesia. Capaian demokrasi di Indonesia semestinya menjadi landscape yang cukup memberikan harapan bagai perbaikan sumber kekuatan manusia parpol saat ini.

Soekanto dalam Wardhani (2008:8) menyatakan bahwa tingkat kesadaran paling tidak dapat dibagi menjadi 4 yaitu pengetahuan, pemahaman, sikap dan pola tingkah laku (tindakan). Kesadaran politik yang rendah dapat dilihat sekiranya berada terhadap level ilmu dan pemahaman, tengah terhadap level sikap, dan tinggi terhadap level pola perilaku/tindakan. Maka dari itu, peran strategis parpol hari ini adalah perihal bagaimana dapat melaksanakan konversi potensi inheren terhadap anak muda.

Artinya, yaitu dari sekadar kesadaran politik di langkah ilmu atau pemahaman untuk kemudian mewujud menjadi aktivisme politik (political activism), sebagai bentuk manifestasi kesadaran politik yang tinggi.

Faktor kuncinya adalah pentingnya parpol itu sendiri untuk dapat melaksanakan evaluasi sungguh-sungguh dalam menghadirkan wahana politik yang atraktif, strategis, dan kondusif dalam mengonversi kesadaran politik kelompok muda menjadi aktivisme politik.

Jika sepanjang ini parpol diakui sebagai wahana yang berbahaya, penuh konflik, dan segenap citra negatif lainnya, kepentingan mendasar bagi parpol adalah menambah peradaban politik itu sendiri, yaitu melaksanakan perbaikan tidak saja hanya citra. Namun melaksanakan transformasi subtansi bahwa parpol merupakan fasilitas kepemimpinan dan kemuliaan sebuah perjuangan. Alih-alih menjadi lumbung pertengkaran sentimen sempit dan watak-watak licik yang koruptif.

Keseharian muka politik harus dihadirkan lagi sebagai area pertarungan ide, di mana silang pandangan dan kritik ditumbuh suburkan sebagai seni keindahan narasi politik (the beauty of the politics). Lebih lanjut, tidak cuman partai politik harus mewujud dalam tata kelolanya yang profesional, yaitu melalui standar manajemen yang mutakhir dan adaptif terhadap tantangan perubahan.

Parpol diharapkan pula dapat menumbuhkembangkan ruang-ruang kreasi yang sepanjang ini dibelenggu tradisi feodalistik, yang memicu lemahnya inovasi di sektor politik. Hal ini menjadi mendasar, mengingat bahwa kompatibilitas pada milenial dan parpol moderen menuntut adanya pembudayaan manajemen yang lebih demokratis ditubuh partai politik itu sendiri.

Yakni bagaimana parpol terejawantah sebagai laboratorium demokrasi yang dapat menghadirkan kesempatan yang setara, utamakan meritokrasi, serta dapat menampilkan kepemimpinan parpol yang mau mendengarkan dan siap menjalin komunikasi terbuka. Pada akhirnya, transformasi kesadaran politik menjadi aktivisme politik bakal tetap butuh transformasi parpol itu sendiri, sebagai usaha beradaptasi terhadap jiwa zaman kelompok muda saat ini.

Kesadaran politik generasi muda senyatanya bakal konsisten tumbuh. Seiring bersama dengan demokratisasi Info yang berkembang secara tak terbatas mendobrak sekat-sekat eksklusifitas dan hirarki pengetahuan. Karenanya, adalah suatu garansi bahwa sebagai generasi yang berpengetahuan (well-informed) anak muda sebenarnya tidak bakal pernah meninggalkan diskursus politik. Sebuah kesadaran politik di level ilmu yang mestinya dapat menumbuhkan optimisme jaman depan bagi parpol.